Seluruh majelis agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha menolak dengan keras di berlakukannya aturan baru yang di sebut aturan kesehatan 2009 yaitu Aborsi yang di setujui untuk di sahkan paripurna DPR 14 september lalu.
Menurut Pendeta Wilfred Soplantila seluruh majelis agama sepakat dengan tegas menolak aturan di berlakukannya Aborsi yang bertentangan dengan ajaran agama, sedangkan menurut fatwa MUI adapun janin yang dapat di gugurkan atau di aborsi adalah karena keadaan darurat atas indikasi medis dan hal itu boleh di lakukan apabila janin tersebut belum berumur 40 hari di dalam kandungan. Berbeda lagi menurut pendapat Bhiksuni Viryaguna Mahasthavira ( perwakilan Budha ) dan I Made Gde Erata dari Parisada Hindu Dharma Indonesia yang melarang segala bentuk aborsi karena aborsi sama dengan penghilangan nyawa yang di anggap sebagai pembunuhan. Dan menurut ajaran katolik P. Sigit Pramudji,Pr sebagai Waligereja Indonesia (KWI).
, segala bentuk abortus provokatus tidak di perbolehkan kecuali atas indikasi medik yang mana hal tersebut di lakukan karena unsur penyelamatan kehidupan. Jadi intinya seluruh majelis agama melarang dengan tegas peraturan kesehatan yaitu Aborsi untuk di sahkan di Indonesia. Dan seluruh majelis agama di Indonesia meminta dengan tegas agar Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak pernah menanda tangani dan tidak pernah menyetujui undang – undang aborsi tersebut karena tidak di perbolehkan di ajaran agama manapun. Bukan hanya dari segi agama, namun juga dari segi hukum yang mana tertulis pada pasal 75 dan 76 yang menyebutkan dengan jelas bahwa aborsi tidak boleh di lakukan dan apabila harus melakukan aborsi, tentunya karena unsur tertentu yang berhubungan dengan medis.

Comments

comments